Le Kalimanthrope

Pluridisciplinary research group upon Kalimantan

Borneo, Menyingkap Gua Prasejarah

34 € + ongkos kirim

Hardcover dengan jaket debu warna,

176 halaman, lebih dari 360 ilustrasi warna, kertas Ultramat 135g. Berat salinan: 1.250g.

ISBN 978-2-9536616-1-3

 

Penerbit Le Kalimanthrope, 2010

 

BELI BUKU: BOUTIQUE.FELIS.TV

 

Pengiriman ke seluruh dunia

Buku ringkasan

 

Foreword by Élisabeth Proust,

President Director & General Manager Total E&P Indonésie

 

Sambutan Menteri Kebudayaan Republik IndonesiaI  19

 

Prakata Jean Clottes  20

 

Prolog  21

 

Bagian Pertama

PETUALANGAN DI NEGERI DAYAK DAN PUNAN

  • Lintas Kalimantan  25
  • Perintis Arkeologi  37

 

Bagian Kedua

PENEMUAN GAMBAR-CADAS YANG UNIK

  • Temuan Tak Terduga  55
  • Jejak Prasejarah  71
  • Terra incognita  77

 

Bagian Ketiga

GUA “LASCAUX” DI KALIMANTAN

  • Dari Gua Masri ke Ilas Kenceng  83
  • Gua Tewet, Gambar-cadas Adiluhung  103
  • Datu-datu Saman di Gua Tamrin  117
  • Gua Ham, Pertunjukan tera-tangan negatif  127
  • Juwita dari di Gua Jufri  135
  • Pohon Madu di Liang Karim  141
  • Dongeng Adi-Satwa dari Gua Harto  147

 

Bagian Keempat

SUDUT PANDANG ARKEOLOGIS

  • Kelahiran Kalimantan dalam Prasejarah 155
  • Jalinan tera-tangan Kalimantan  161

 

Adakah Masa Depan bagi Masa Lalu?  169

 

Peta Wilayah Penelitian  172

 

Daftar Pustaka  174

 

Kronologi  176

Luc-Henri Fage,

Jean-Michel Chazine,

Pindi Setiawan

 

Prakata dariJean Clottes

Prakata dari Dr. Jero Wacik

Ministry of Cuture and Tourism of Indonesia

Prakata dari by Elisabeth Proust

 

Diterjemahkan oleh Rahayu Surtiati Hidayat.

Mengedit oleh Pindi Setiawan

 

PRESS RELEASE

 

Borneo: Menyingkap gua prasejarah

Catatan kedua penulis ini mengenai gua di Kalimantan—mereka menyebutnya Bornéo—merupakan kesaksian atas suatu petualangan luar biasa. Mereka menceritakan temuan hebat suatu gambar-cadas (garca) berusia lebih dari 10.000 tahun yang menjelaskan bagaimana manusia menempati wilayah antara Asia dan Australia.

Sejak 1988, misi demi misi mencoba menggambarkan profil berbagai populasi tua Kalimantan yang sangat mungkin serumpun dengan kaum Aborigin di Australia dan hubungan khusus yang mereka jalin dengan gua dengan menciptakan garca yang berciri sejumlah besar tangan negatif. Terhitung hampir 2.000 gambar yang mendorong mereka untuk mengusulkan penafsiran baru tentang corak universal itu.

Karya ini yang diberi ilustrasi begitu indah m enyajikan kekayaan, kompleksitas, dan kekunoan di bagian dunia itu yang sekarang terancam lingkungannya.

"Dengan ilustrasi yang kaya dan sangat mudah membaca buku ini, Anda dapat menemukan seni mural lima sampai sepuluh ribu tahun, sama sekali tidak dikenal."

LIBÉRATION

“Ditulis sebagai buku perjalanan, kaya ilustrasi dengan ratusan foto, peta, dan diagram, buku ini ditujukan bagi siapa saja yang tertarik dengan petualangan ilmiah dan manusia.”

NATIONAL GEOGRAPHIC

“Oleh karena itu, buku petualangan adalah kisah arkeologi yang hebat, dan mempertahankan tradisi besar penjelajahan geografis.”

CAFÉS GÉOGRAPHIQUES

French version

 

Bornéo, la Mémoire des Grottes

 

BUY HERE

 

worldwide delivery

Version anglaise

 

Borneo, Memory of the Caves

 

BUY HERE

 

worldwide delivery

Ekstrak dari pendahuluan oleh Jean Clottes

Hanya sedikit speleolog, dan bahkan jarang arkeolog, yang mujur dalam hidup mereka sempat menemukan sebuah gua bergambar-prasejarah. Keberuntungan tentu saja didahului kerja keras dan terencana, disertai pengalaman. Namun, adakalanya kerja keras itu akhirnya mendapat imbalan atau sia-sia. Luc-Henri Fage dan Jean-Michel Chazine adalah peneliti yang beruntung telah mengalami momentum luar biasa itu. Namun, yang istimewa dalam petualangan itu adalah mereka tidak hanya meneliti satu gua bergambar. Temuannya memang berlipat ganda sebelum dan setelah 1998, masa “panen” mereka. Mereka telah menemukan satu daerah secara menyeluruh yang menyimpan begitu banyak gua bergambar.

 

Sebelum penelitian mereka di Kalimantan, sesungguhnya tidak ada yang mengetahui keberadaan suatu seni cadas di daerah terpencil itu. Menara pegunungan karst itu sendiri spektakuler dan dilindungi oleh keterpencilan dalam hutan lebat. Penduduknya, yang hidup dari sarang burung, sumber alam yang begitu kaya, sangat mencurigai pendatang. Dengan kata lain, kedua peneliti itu harus menghadapi segala hambatan, mulai dari perizinan hingga penjelajahan di dalam rimba raya itu. Mereka harus mendaki cadas terjal, yang sering membahayakan, terkadang harus menggunakan sulur tumbuhan, sebelum mencapai ceruk tertinggi yang bergambar tangan negatif.

Tera-tangan negatif Kalimantan, yang begitu banyak dan orisinal berikut corak dalamnya, sekarang termasyhur, paling tidak di kalangan pakar. Garca itu menjadi bagian dari perwujudan paling misterius dan paling mengagumkan yang pernah dikenal. (...

 

Karya Luc-Henri Fage dan Jean-Michel Chazine, yang diberi ilustrasi mewah berupa foto sangat indah, menyajikan suatu alam yang tidak dikenal sampai kini. Mereka mengisahkan cerita prasejarah yang menakjubkan, dengan bobot keilmuan yang tinggi dari data yang sahih, dilengkapi dengan kaji-banding berbagai tema dan teknik, serta penelitian tentang jenis kelamin para pencipta telapak. Semua itu membuat kita dapat membayangkannya.

Benar-benar suatu warisan budaya yang hebat, layak menjadi tradisi seni yang termasyhur. Jelas warisan itu patut dilindungi, begitu pula lingkungan sekitarnya yang rentan. Buku yang memperkenalkan warisan budaya ini merupakan sumbangsih bagi perlindungan dan pelestariannya, suatu hal yang selalu kita harapkan.

 

Jean Clottes

ahli prasejarah,

Konservator Emeritus Warisan Budaya

Penulis

   Luc-Henri Fage

Fotografer, wartawan, ilustrator, sutradara film dokumenter, dan penjelajah. Kegemarannya bertualang—sering kali dengan kamera dalam genggaman—telah membawanya berakit-rakit di sepanjang Sungai Zaire, menjelajahi untuk kedua kalinya Pulau Papua dari selatan ke utara, dan berperan serta dalam berbagai ekspedisi speleologis di Aljazair, Papua Nugini, dan baru-baru ini di Patagonia, Cile. Awalnya adalah tahun 1989, ketika menjelajahi Pulau Kalimantan dari timur ke barat, ia sangat tertarik pada sebuah gua bergambar gambar arang. Maka, pada 1992, rombongannya yang didampingi etno-arkeolog Jean-Michel Chazine memulai penjelajahan panjang.

 Jean-Michel Chazine

Etno-arkeolog CNRS (Pusat Penelitian Ilmu Prancis), anggota CREDO (Pusat Penelitian dan Dokumentasi Oseania). Insinyur di bidang fisika-metalografi ini akhirnya menekuni etno-arkeologi setelah melakukan penelitian tentang bangsa-bangsa pertama yang menghuni atol Tahiti dan Tuamotu, Polinesia Prancis. Perjumpaannya dengan Luc-Henri Fage menyeretnya ke luar dari Oseania untuk merintis penyelidikan di jantung Kalimantan yang ternyata belum pernah disentuh penelitian arkeologis.

 Pindi Setiawan

Peneliti Komunikasi-Visual, FSRD-Institut Teknologi Bandung, fokus pada penelaahan komunikasi manusia yang nirleka, dari tradisi sampai masa prasejarah. Ia juga petualang alam bebas. Tahun 1991, mulai meneliti gambar-cadas prasejarah di Maluku, Papua pantai-barat dan Sulawesi. Sejak itu, ia lebih dikenal sebagai peneliti gambar-cadas Indonesia. Tahun 1995 diajak Jean-Michel Chazine dan Luc Henri Fage mencari goa-goa bergambar yang ‘hilang’ di pegunungan karst Sangkulirang, dan dimulailah petualangan ilmiahnya di kawasan karst raksasa yang spektakuler ini.

 

membuka-buka buku

 

© Le Kalimanthrope 2021 |  Contact | Legal